Beranda cerita relawan Aku dan Ilmuku

Aku dan Ilmuku

105
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta–“Ilmu itu bukan yang dihafal tapi yang bisa memberi manfaat” (Imam Syafi’i).

Mungkin kalimat ini yang mewakili sebagian, atau mungkin semua kakak relawan pengajar Rumah Lebah, atau lebih tepatnya diriku.

Sudah hampir dua tahun—lupa tepatnya kapan pertama—mengajar adik-adik lebah, khususnya kelas bawah atau biasa disebut kelas Thariq bin Ziyad. Dengan range usia 4-9 tahun.

Awalnya takut, Takut di sini bukan takut hantu ya, tapi takut kasih ilmu yang gak tepat dan gak pas buat mereka. Takut mereka gak suka diajar sama aku atau materi yang dikasih kurang dipahami sama adik-adik. Eitss…tapi ternyata tidak seperti yang ditakutkan, adik-adik malah senang dan suka diajar sama kakak-kakak lebah.

Kegiatan belajar mengajar kelas Thariq dibagi menjadi 4 minggu, setiap ahad dan kamis. Agenda tiap minggu berbeda-beda. Minggu pertama calistung, minggu kedua agama, minggu ketiga bahasa, dan minggu keempat kreativitas atau outing class. Setiap minggu selalu berkesan dan membekas, tapi khusus minggu ini ada yang special edition dan limited edition. Mau tahu kenapa?

Sabtu 4 Agustus 2018, setelah KABIS (Kajian Bonpis), seperti biasa ba’da shalat ashar adik-adik sudah mulai berdatangan. Satu, dua, tiga, empat, hingga terkumpul 30 anak.

Awal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selalu dibuka dengan tepuk doa (yang belum tahu bagaimana tepuk doa, boleh tanya kakak lebah atau datang langsung setiap KBM). Dilanjutkan dengan muraja’ah dari Surat An-Nas sampai dengan Al-Asr. KBM hari itu agendanya adalah calistung. Kakak lebah yang hadir adalah Kak Salmah, Kak Syifa, Kak Katrin, dan aku.

Kelas Calistung hari itu kita bagi berdasarkan tingkat sekolah adik-adik. Kak Katrin mengajar anak kelas khusus (yang masih belum bisa calistung), Kak Salmah mengajar adik kelas 1-2 SD, Kak Syifa mengajar kelas 3 SD, sedangkan aku mengajar adik kelas 4-5 SD.

Beda tingkat beda juga yang diajarkan. Pada kelas khusus, Kak Katrin lebih mengenalkan cara menulis dan membaca kepada adik-adik yang masih dalam tahap mengenal huruf dan bacaan. Kak Salmah mengajarkan pertambahan dicampur dengan pengurangan dengan sistem soal cerita. Kak Syifa mengajarkan perhitungan dicampur pertambahan dan pembagian.

Nah, hari itu adik yang aku ajar adalah Tiara, Rangga, Sultan, Rizki, dan Doni.

Sebelum memulai pelajaran, aku biasanya bertanya “Matematika kalian sudah sampai mana kalau di sekolah?”

Aku sengaja bertanya seperti itu, sebab ingin menerapkan cara belajar yang santai dan lebih mengikuti mood adik-adik.

“Mau belajar apa hari ini?”

Jawaban mereka macam-macam. Ada yang bilang pecahan desimal, minus, persen, bilangan. Bukan adik lebah kalau gak heboh ditanya pertanyaan ini. Akhirnya aku memutuskan memakai undian dengan memutar spidol ke arah mereka. Jika spidol mengarah ke salah satu dari mereka, maka keputusan mau belajar apa hari itu ditentukan oleh yang menang. Dan yang menang hari itu adalah Sultan.

Akhirnya Sultan memutuskan hari itu kami belajar perkalian. Tapi aku request perkalian yang bukan 1-10. Lalu mereka protes dan akhirnya nego hari itu manjadi perkalian campuran bukan 1-10 saja, tapi dicampur bilangan puluhan yang lebih besar. Hari itu cukup 10 soal yang aku berikan. Ada beberapa soal yang mereka bilang “Gampang, Kak, ini mah!”

“Ah, ini mah kecil!”

“Kak, gak adaa yang lebih susah?”

Aku cuma bisa ketawa dan bilang “Coba dulu. jangan meremehkan sesuatu yang kecil menurut kalian dan jangan sombong dulu.”

Masing-masing dari mereka mulai mengerjakan dengan serius. Awalnya mungkin biasa saja tapi makin lama suasana mulai tidak kondusif. Rangga mulai dengan kejahilannya, melihat alat peraga perkalian. Sultan dan Rizki yang mulai bingung garuk-garuk kepala. Doni yang mulai beralasan mau minum dulu. Serta Tiara yang masih tetap serius menyelesaikan soal.

Kodratnya anak-anak—yang pasti hampir semua orang rasakan—yaitu “mencontek” dan “kerjasama” saat ada soal yang susah. Kondisi makin tidak terkendali dengan Rangga yang mulai mencontek Tiara, Sultan yang mulai nanya sama Tiara sambil kerja sama, dan saling memberitahu jawaban antara Doni dan Rizki.

Akhirnya selesai juga mereka mengerjakan soal. Aku mulai mengecek jawaban mereka dimulai dari Tiara mendapatkan nilai 80, Rangga mendapatkan nilai 70, Doni mendapatkan nilai 60, Sultan mendapatkan nilai 30, dan Rizki mendapatkan nilai 40.

Saat mengecek jawaban Rizki, ia terlihat bingung ketika aku mengoreksi jawaban dia dengan menjabarkan cara perkalian yang benar. Di situ aku curiga, Rizki masih belum menguasai perkalian dasar 1-10. Ternyata benar, Rizki mengaku belum lancar perkalian, Terlihat muka Rizki yang malu mengungkapkan itu. Lalu aku bertanya ke Rizki.

“Rizki belum lancar perkalian 1-10?” ujarku.
“Belum kak, masih suka bingung,” jawab Rizki.
“Lagian Rizki disuruh les gak mau sih, Kak!” sambung Doni.
“Bukan gak mau Kak, mungkin gak ada uang Kak buat les,” balas Tiara.

Saat itu muka Rizki terlihat sedih tapi tidak mau menampakkannya. Akhirmya aku menenangkan dia dengan memberikan sedikit apa yang aku alami kala seusia dia.

“Pintar bukan diukur dari kamu les atau enggak. Kak Lea aja dulu pas seumuran Rizki gak pernah ikut les. Salah satunya karena alasan biaya, tapi Kak Lea gak patah semangat. Kenapa lesnya gak di rumah aja, dengan belajar sendiri mengulang pelajaran, soal yang sudah dipelajari atau bisa bertanya ke orangtua atau sesama teman rumah, Belajar bareng di rumah setelah pulang mengaji. Kak Lea gak malu bertanya ke teman atau guru kalau gak mengerti apa yang dipelajari. Sebab dulu pas kecil dibilang ‘malu bertanya, sesat di jalan’. Jadi kalau malu gak mau nanya soal pelajaran, nanti jadi gak bisa kan?”

Alhamdulillah, Rizki mulai mengerti apa yang kumaksud dan dia mau banget aku ajarkan perkalian dasar 1-10. Rizki bilang, kalau boleh bantu Rizki di pelajaran yang lainnya juga ya, Kak.

Di sini momen yang aku gak bisa lupakan, ketika Rizki senyum dan peluk aku dengan eratnya. Speechless. Aku langsung teringat kata Imam As-Syafi’i,
“Ilmu itu bukan yang dihapal tapi yang memberi manfaat.”

Jadi bemanfaatlah untuk orang lain dengan ilmu apa pun yang kalian miliki. Apa pun itu dan bagaimana pun kalian, jangan merasa malu akan status atau brand kalian di mata orang. Bermanfaatlah dengan ilmu yang kalian miliki.

*Nur Aliyah Sholihah

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!