Beranda cerita relawan Berlelah dalam kebaikan demi visi Surga

Berlelah dalam kebaikan demi visi Surga

172
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta – Pada awalnya, saya kira saya tak bisa bergabung dalam raker ketiga Rumah Lebah PAY (13-14 Januari 2018). Sebab ada banyak tugas sekolah yang harus saya selesaikan dan ada agenda yang wajib saya datangi di hari Ahad. Qadarullah, target tugas sekolah saya selesai setengahnya, sehingga saya bisa bernafas sejenak selama seminggu ke depan hahaha. Juga agenda yang selama dua tahun tidak pernah digeser, untuk kali pertamanya dipindah menjadi Senin sore. Cukup membuat saya terkejut dan berpikir bahwa sepertinya saya memang harus datang raker.

Namun masih ada kendala terkait izin, jarak, dan akomodasi. Saya belum izin ke Mama karena sedang LDRan, lokasi raker yang jauh dan kurang strategis dijangkau transportasi umum membuat saya harus siap mengendarai motor ke sana. Tapi, kondisi tubuh saya sedang tidak fit. Jadi saya coba diskusi dengan teman kerja, apakah dia mau bergantian menyetir dengan saya dan ikut kegiatan. Alhamdulillah semua teratasi. Izin didapat dengan mudah dari Mama, sebab melihat saya pergi berdua dengan mahram dan jarak jauh selama dua jam pun bisa ditempuh.

Tinggal persiapan mental dan hati yang harus dikosongkan agar bisa menyerap ilmu dengan maksimal serta meluruskan niat, apa sesungguhnya niat saya keluar rumah jauh-jauh ikut raker. Apakah untuk menjadi pribadi lebih baik untuk meneladankan kebaikan dan menyebar manfaat sebanyaknya dengan memberi solusi terhadap permasalahan yang ada di Rumah Lebah PAY, atau hanya happy-happy kurang berfaedah dengan berbaur ikhwan-akhwat, bercanda yang tidak perlu, dan menumbuhkan rasa yang tidak semestinya ada. 

Tentang kegiatannya, saya merasa happy sekali. Sebab acara ini diusung dengan tema “Gathering dan Upgrading” antara rumah belajar binaan PAY (Rumah Manfaat, Rumah Lebah PAY, Sanggar Pijar, dan Rumah Edukasi dan Kreasi Anak Parung/REKAP). Sehingga kami bisa bersilahturrahim dengan relawan lainnya dan melakukan Forum Group Discussion (FGD). Yang dibahas dalam FGD adalah permasalahan yang dialami di tiap rumah belajar, dan saling sharing pengalaman yang bisa dijadikan solusi. Saat FGD, kondisi saya sedang mengantuk berat dan lelah sehabis mengendarai motor dua jam belum hilang. Sehingga saya tidak terlalu menyimak apa yang dibicarakan. Sampai saya diminta berpendapat oleh MC tentang kasus “bully”.

Alhamdulillah, pas sekali dengan materi STIFIn leadership yang baru saja saya rancang pekan lalu dan diterapkan di sekolah. Saya sharing saja apa yang saya hadapi di sekolah, terkait kasus bullying di kelas 7 dan 8 SMP. Intinya adalah fokus pada prestasi anak, munculkan potensi kebaikan mereka, dan ingatkan terus untuk sibuk memperbaiki diri, dibanding mengurusi kejelekan orang lain. Agama adalah pondasi pentingnya. Untuk worksheet yang diberikan, seperti ini contohnya.

Selain gathering, ada juga upgrading relawan melalui dua pelatihan. Pelatihan pertama adalah pelatihan mendongeng bersama Kak Adi dan Kak Oni dari komunitas Dongeng Ceria Management (DCM). Pelatihan ini dimulai pukul 20.00-23.30. Agak mundur dari jadwal yang seharusnya. Tapi hebatnya adalah, saya tidak merasa ngantuk selama materi. Sebab Kak Adi dan Kak Oni sangat pintar memainkan intonasi dan gerakan lucu. Kami pun sempat memeragakan teknik imajinasi dalam bercerita dengan membayangkan membawa sebuah benda berat dan bola api. Juga belajar sedikit tentang memainkan intonasi (tinggi-sedang-rendah) bersama Kak Adi. 

Sementara bersama Kak Oni, kami belajar senam nervous. Sempat ada yang menangis dan menjerit saat senam ini. Sebab kami harus mengondisikan diri ke dalam zona relaksasi, yang riskan kesurupan di tengah malam. Tapi sampai di sana saja. Sebab Kak Oni juga mengingatkan untuk tetap berzikir, dan kejadian seperti itu adalah hal biasa. Setelahnya Kak Oni memeragakan mendongeng memakai boneka dan tekniknya. 

Sebenarnya saya mau bertanya tentang teknik mendongeng untuk peserta remaja (SMP), namun term in pertanyaan telah ditutup, sementara untuk berdiskusi saya enggan sebab waktu sudah melewati batas jam malam saya. Jadi biarlah, saya mencari sendiri teknik berdongeng untuk remaja agar pas kadarnya dan tidak dibilang lebay hahaha.

Agenda terakhir adalah pelatihan membuat media ajar kreatif bersama Guru Ayu dan Guru Silmi dari komunitas Sekolah Guru Indonesia. Sebenarnya materi yang disampaikan bukan hal baru bagi saya. Tapi sesuai janji dan niat saya, saya harus mengikuti pelatihan seakan-akan baru mendengar materi tersebut. Alhamdulillah, Guru Ayu menyampaikannya dengan gaya yang asyik. 

Banyak ide ice breaking—untuk dimasukkan ke dalam STIFIn alpha zone RPP saya—yang melintas selama pelatihan media ajar ini. Seperti tepuk warna (merah-tepuk 1 kali, kuning-tepuk 2 kali, hijau-tepuk kosong dan bersuara “eaa”), games transportasi dengan penambahan “bunga” (beranggotakan 5 orang, dengan posisi satu orang di tengah berjongkok), dan modifikasi aturan gamesnya (bila disebut kata yang sama, tandanya harus berganti pasangan).

Lalu kami dibagi menjadi 9 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan tugas yang berbeda. Kelompok ganjil bertugas membuat media ajar kreatif dari barang bekas sesuai materi yang didapatkan. Sementara kelompok genap bertugas membuat media ajar kreatif berbasis lagu sesuai materi yang didapat. Sebelumnya kami ditugaskan membuat yel-yel kelompok dan ditandingkan saat memeragakan games lagu (teori Edgar Dale dan verb in English).  Seru sekali melihat presentasi para relawan.

Saya sendiri masuk ke dalam kelompok 6 bersama Kak Gladys, Kak Nipeh, Bu Jijah, Kak Ecy, Mama Lina, dan Kakak temannya Kak Gladys (maafkan, saya lupa namanya). Materi yang kami dapat mengenai jangan membuang makanan (sepertinya tematik IPA dan PLH untuk kelas 4 SD) dan proses padi menjadi nasi. Saya mendapat ide nada lagu “tangtung twang” dan “jaran goyang” sebab murid saya suka menyanyikannya di sela istirahat. Namun nadanya diganti sehingga menjadi seperti ini:

(nada tangtung twang)

Kamu makan nasi tangtung twang tangtung twang

Jangan dibuang-buang tangtung twang tangtung twang

Makan kalau lapar tangtung twang tangtung twang

Berhenti sebelum kenyang…


Tahukah dirimu tangtung twang tangtung twang

Proses membuat nasi tangtung twang tangtung twang

Dimulai dari padi tangtung twang tangtung twang

Prosesnya 100 hari…


Ada dalilnya… ada dalilnya… (nada jaran goyang)

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Q.S. Al Isra’ [17]: 27).  

Ingat-ingat… Ingat-ingat… (nada jaran goyang)

Setelah shalat ashar dan presentasi kelompok, saya tidak bisa mengikuti acara sampai selesai. Sebab sudah ditelepon Mama untuk pulang segera. Akhirnya, pukul 16.30 saya pamit dari acara.
Perjalanan pulang diiringi hujan membuat saya kedinginan dan memutuskan berhenti sejenak untuk makan bubur ayam dan minum teh tawar hangat. Selama merenung di perjalanan, saya terinspirasi membuat lagu penyemangat tentang kisah hari ini. Tetap dengan nada yang sama seperti presentasi media ajar lagu yang dibawakan kelompok saya, hanya nadanya diganti, untuk mengingatkan visi akhirat relawan:

Kamu masih ngantuk tangtung twang tangtung twang

Tapi pagi harus kerja tangtung twang tangtung twang

Jangan lupa senyum tangtung twang tangtung twang

Karna itu kebaikan…


Lelah yang didapat tangtung twang tangtung twang

Semoga menjadi lillah tangtung twang tangtung twang

Karna itu semua tangtung twang tangtung twang

Demi Buat Mreka Tersenyum…


Ada haditsnya… ada haditsnya (nada jaran goyang)

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَ لَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu mengganggap remeh apa saja dari kebaikan, meski hanya engkau bertemu saudaramu dengan muka yang manis (senyum)” (HR Muslim)

Ingat-ingat… ingat-ingat…

Tapi lagu itu baru saya share di pagi hari agar pas momennya. 

Ya… kadang kita lupa akan insight yang telah didapat dari kegiatan yang telah dilakukan dan hanya mengingat lelahnya saja. Melalui lagu ini saya hanya ingin mengingatkan diri saya dan relawan lainnya, bahwa biarlah kita lelah asal tetap dalam kebaikan. Agar jangan sampai kita malah dilelahkan dan disibukkan dalam keburukan. 

Ingat visi akhirat kita, berpusing ria memikirkan Laskar Langit untuk syafaat kelak di akhirat, semoga salah satu dari mereka adalah tangan yang akan menarik kita ke dalam surga. Tangan yang mengingat amal kebaikan kita meski sekecil zarrah, saat dunia melupakannya. Sebab bukan tidak mungkin, hal yang biasa bagi diri kita, mungkin adalah sesuatu yang luar biasa bagi dunia mereka. Kita mungkin bukan apa-apa bagi dunia. Tapi mungkin kita adalah dunia bagi mereka (adik-adik Laskar Langit).

*Iska Meta Furi

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!