Beranda cerita relawan Cerita Lebah di Pulau Tunda

Cerita Lebah di Pulau Tunda

78
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta – Pukul 14.00, matahari sedang teriknya menyala sepanjang perjalananku ke Rumah Lebah PAY untuk rutinitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hari itu semua kelas disatukan dan diisi materi tentang Palestina oleh Kak Suci.

Kali pertama lagi melihat Kak Suci (setelah cuti lama) mengisi materi. Tegas tapi gak kaku, diselingi humor. Sebelum KBM berakhir, kelas aku ambil alih untuk memberitahukan apa saja barang yang harus dibawa untuk beetrip.

Mendengar itu, kelas Thariq begitu antusias dan heboh mencatat. Banyak pertanyaan yang tidak disangka-sangka keluar dari mulut adik lebah kecil ini.

Seperti, “Kak Leya, nanti boleh gak bawa  ban buat berenang?”

“Kak Leya, nanti boleh gak pakai baju renang?”

“Kak Leya, nanti berenangnya sama lumba-lumba ya?”

”Kak Leya, nanti ada putri duyung gak di sana?”

Setelah selesai mencatat bawaan yang harus dibawa, aku menyuruh mereka pulang dan balik lagi bada isya ke Rumah Lebah untuk menginap. Tapi ternyata mereka datang sebelum adzan isya (saking semangat dan gak sabarnya). Adzan isya berkumandang, kami pun shalat berjamaah.

Selesai shalat isya, kukira mereka bakalan lowbat (ngantuk). Ternyata aku salah! Baterai mereka tetap full full full. Mereka tidak ada yang mau tidur (OMG!), padahal tikar sudah digelar, ruangan juga sudah dingin, dan mata ini juga sudah 20% penglihatannya.

Kalau boleh dibilang semua referensi cara buat mereka tidur sudah dicoba, mulai dari matikan lampu, sedikit tegas, dilembutin, tapi tetap saja masih belum pada mau tidur. Akhirnya kami bagi tugas. Kak Fairuz dan Kak Fatimah menjaga adik-adik perempuan sedangkan aku dan Kak Katrin menjaga adik-adik lelaki di atas. Tapii… cara itu pun gagal total, mereka masih saja tidak mau tidur. Alasan mereka macam-macam.

Seperti, ”Kak, aku gak mau tidur ahh! Mau begadang aja sampai besok pagi.” kata Dewa.

”Kak, aku mau baca buku aja ahhhh…” kata Nabila.

“Kak, aku biasanya tidur malam jadi belum mau tidur.” kata Sila.

“Kak, aku pipis dulu ya, aku mau cuci muka dulu ya.” kata Marvel.

Kakak yang lain sudah mulai mengantuk dan tertidur. Tersisa diriku di atas masih dengan celotehan mereka, dan akhirnya metode terakhir dijalankan yaitu dengan mengancam aku akan pulang dan tidak jadi ikut acara beetrip hahhaaha. Berhasil!

Adik-adik lebah perempuan sudah mulai tertidur, begitu pun yang laki-laki. Ancaman itu berjalan lancarrrr. Alhamdulillah akhirnya mereka semua tidur. Suasana menjadi hening, sepi, tapii hanya bertahan 15 menit. Semua kembali runyam karena kedatangan Kak Fajar dan Teh Reni! Hiks…

Ramai berisik lagi lah di atas tapi alhamdulillah adik-adik perempuan tidak terganggu dan tetap aman di bawah. Nah mau tahu kondisi di atas seperti apa ? Silakan baca di http://rumahlebahpay.com/sengatan-lebah-di-pulau-tunda/

Tiba-tiba listrik mati! Ternyata tokennya habis. Gelap membuat anak-anak terbangun. Kak Fajar dan Teh Reni juga bangun.Pukul 02.00 kami bertiga sibuk mencari cara untuk mengisi token. Untunglah ada Pak satpam yang melihat kebingungan kami. Bapak satpam bak ibu peri (eh pak peri deh) memberitahu kami tempat jual token listrik. Sempat ada drama saat isi token, “sedang gangguan” (what???) tapi dengan kekuatan cinta doa akhirnya bisa jugaaa!

Alarm berdering, semua adik mulai bangun. Dimulai adik-adik perempuan dan dilanjutkan oleh adik-adik lelaki (mandi express semuanya). Sesudah shalat subuh, kami menuju Pelabuhan Karang Atu dengan bus polisi. Semua langsung terlelap tidur lagi (efek tidur cuma 2 jam).

Tiba di pelabuhan muka-muka bahagia mereka merekah bak wanita yang akan dikhitbah (apa dah, loh kok jadi ke romance). Persiapan 10 menit naik perahu sedikit membuat jenuh mereka.

“Kak, kok kita belom naik kapal juga?” 

Pukul 07.30 kapal kami mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Karang Atu,  menuju Pulau Tunda. Pengalaman pertama saya bersama adik-adik, yaitu selama perjalanan kami mengisi kekosongan dengan bermurajaah hafalan al-quran mereka. Tak hanya sampai situ, setelah bermurajaah mereka meminta sambung ayat. Hebat!  Sangat jarang anak seusia mereka mengisi waktu dengan bermurajaah, kebanyakan bermain gadget atau yang lainnya.

Selama perjalanan ombak tak henti menyambut kami. Air ombak yang tumpah ke muka kami menunjukkan deburannya, sedikit membuat adik-adik cemas dan takut. Ada satu momen yang tidak akan terlupa yakni ketika ketakutan mereka memuncak, adik-adik meminta pulang naik kereta hahhahaha.

Dua jam perjalanan di laut terbayar oleh welcome drink es kelapa susu dari kakak team tunda. Segarrrr maknyusss deh pokoknyaa. Agenda awal di sana kami akan snorkling underwater, tapi laut sedang tidak bersahabat. Air laut keruh dan tidak bisa untuk snorkling. Tapi tenang, bukan team tunda kalau tidak punya option lainnya. Kami akhirnya memutuskan untuk main air di pantai timur.

Di perjalanan menuju pantai, warga sekitar menyambut dengan senyuman. Nah di sini juga ada momen lucu saat adik-adik bernyanyi bersama lagu jaran goyang versi sholawat (mau tahu lagunya gimana bisa liat di pakde yusuf). Wangi air laut sudah tercium beberapa meter, akhirnya bibir pantai terlihat dan adik-adik langsung berlarian masuk ke air.

“Byurrrrrrrr!!”

Ciprat-cipratan air, tingkah pertama mereka saat masuk air, senangnya mereka masuk ke kolam renang yang tidak ada ujungnya. Main pasir membuat kastil kerajaan, mengumpulkan kerang yang mereka jumpai di sisi pantai. Di pinggiran pantai juga ada ayunan yang bisa mereka naiki berdua.

Jam makan siang tiba, adik-adik kami suruh makan dan seperti biasa, bukan adik lebah kalau tidak meledek kakak-kakaknya. Disuruh makan, mereka malah masih main di pantai. Tenang, solusinya gampang kok! Kalau ini kami kasih pilihan “Mau makan dulu, lanjut main air lagi,” atau “Yang tidak mau makan, nanti pulang sekarang.”

Nah, akhirnya mereka makan dengan lahap. Setelah perut mereka kenyang, mereka menceburkan diri lagi ke laut. Ada celotehan pertanyaan lugu dari adik-adik di sela makan siang,

“Kak, kok gak pakai kacamata sama kaki-kakian itu sih?”

“Kak, nanti berenangnya pakai kaki-kakian sama kacamata gede itu ya?” maksud mereka scuba diving mask dan kaki katak) hahahhaha.

Tidak terasa 2 jam sudah berlalu. Kami harus balik lagi ke homestay (masih kurang sebenarnya sihh), bersih-bersih diri dan shalat dzuhur sebelum meninggalkan Pulau Tunda. Rasanya berat untuk kami meninggalkan Pulau Tunda. Ada celetukan mereka yang membuat senang sekaligus sedih.

“Kak, nanti kita berenang lagi ya di Gelanggang.” 

“Gelanggang mana, Atlantis Ancol?”

“Bukan Kak, di Sunter saja yang gak mahal. Semoga kakak ada rezeki biar bisa ajak kita ke sana, Kak, aamiin.” (polosnya pinta mereka bersama)

“Aamiin…”

Lelah bermain mengukir senyum yang rekah di wajah mereka. Di perjalanan pulang, gerimis manis hujan bercampur deburan ombak mengiringi. Perjalanan pulang terasa lebih singkat karena adik-adik tertidur lelap di kapal, dan akhirnya sampai juga di Pelabuhan Karang Atu. Mobil polisi sudah siap membawa kami kembali ke Bonpis. Pengalaman berharga dan berkesan bukan cuma milik adik-adik, tapi juga milik kakak lebah yang telah bermain dan bersenang-senang dengan mereka.

JANGAN MENUNGGU BAHAGIA UNTUK TERSENYUM, TETAPI TERSENYUMLAH UNTUK BAHAGIA.

*Nur Aliyah Sholihah

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!