Beranda cerita adik lebah Dibuat kagum oleh adik lebah

Dibuat kagum oleh adik lebah

52
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta – Senin (29/5) adalah awal hari di mana semua akan memulai aktivitasnya masing-masing. Yah, pada hari itu saya memulai kegiatan dengan datang ke tempat PKL saya yaitu RSPI Sulianti Saroso, untuk menyerahkan laporan. RSPI berada di daerah Sunter, Priok. Di pagi harinya, tepatnya di stasiun Poris–sembari menunggu kereta–saya kepikiran untuk bukber di rumah lebah PAY yang lokasinya dekat dari RSPI.

Saya langsung menelepon sobat satu kosan sekaligus relawan PAY juga yang bernama Winda untuk ikut bergabung. Saya juga berniat untuk membelikan adik-adik roti maryam untuk berbuka puasa, berharap adik-adik dapat merasakan dan mengenal makanan khas arab itu.
Entah kenapa, pagi itu saya ingin bertemu adik-adik rumah lebah. Ada rasa rindu yang bergejolak di hati. Bayangan keceriaan, senyuman, suasana ramai, bahkan semangat adik-adik saat menuntut ilmu itulah yang memunculkan segenap rindu untuk mereka. Kalian kalau sudah bertemu adik-adik ini, bakal ketagihan untuk bertemu kembali. Oh, ya, pantas saja disebut adik lebah, beneran kayak lebah, lho! Pada saat kalian datang, mereka akan mengerubungi untuk mencium tangan kalian. Sopan sekali adik-adik ini.

Singkat cerita, saya menunggu Winda di Musholla RSPI. Karena Winda berangkat dari kampus di daerah kalibata setelah sholat ashar, alhasil di perjalanan terkena macet. Benar saja dugaan saya, dia sampai di RSPI jam 5 lewat hampir setengah 6. Sebelum kami berangkat, kami bertanya pada satpam tentang alamat yang diberikan ka Suci–Kepala Sekolah Rumah Lebah. Pasalnya, kami bingung alamat yang diberikan tidak ada dalam daftar pencarian di aplikasi ojek online. Karena mengejar waktu, kami akhirnya segera pesan ojek online tersebut dan memberi tahu tujuan kami ke Masjid Anni’mah di Jalan Kampung Bahari 2, Tanjung Priok. Perasaan cemas pun ada, karena saya belum pernah ke lokasi rumah lebah yang baru.

Dengan kekuatan bertanya ke orang-orang sekitar, sampailah kami di Masjid Anni’mah. Saya langsung menelepon salah satu adik rumah lebah yang kontaknya diberikan oleh Ka Suci. Tak lama, adzan maghrib pun terdengar. Dan tak lama pula adik lebah yang kuhubungi datang–Fajrin namanya.–Ia datang bersama adiknya, kisaran umur 6 tahun. Kami pun diantar menuju Musholla Nurul Ba’ats tempat adik-adik berbuka puasa.

Berjalan melewati rel kereta yang masih aktif. Bagaimana rasanya kalian berjalan tepat di samping kereta yang sedang berjalan? WOW! Luar biasa sekali. Tingkat bahaya tinggal di daerah ini sangat tinggi. Apalagi mereka masih anak-anak. Mungkin, bermain di pinggir rel sudah menjadi kesehariannya.
Dari kejauhan sudah terlihat keramaian adik rumah lebah. Ada yang masih makan. Ada yang lagi mengambil wudhu, dan ada pula yang sudah bersiap untuk menunaikan ibadah sholat maghrib di dalam musholla. Benar saja kami datang sangat telat. Kami langsung diserbu adik-adik setelah sampai di musholla.

“Kak Ninis!” sapa mereka sembari mencium tangan saya dan Winda.

“Kakak udah buka puasa belum?” tanya Maulin, salah satu adik lebah yang paling besar. Kami pun menjawab “Belum.” Setelah itu mereka langsung memberi kami air mineral dan puding. Duh, manisnya.

Melihat di sekitar tidak ada kakak PAY yang saya kenal, saya langsung bertanya “Kak Suci mana?”

Maulin yang duduk di depan saya menjawab, “Kak Suci nggak kemari, Kak! Katanya jagain ibunya lagi sakit.”

Dalam hati saya bergumam, “Yah ampun mereka buka puasa bersama sendiri.”

Hanya dibantu beberapa ibu dan adik lebah yang paling besar kisaran 12-15 tahun. Namun, hebatnya mereka bisa berkumpul tanpa adanya kakak PAY yang mengarahkan. Saya sangat kagum pada mereka. Rasanya mau teriak, “Aaah kalian keren sekali!” Tapi nggak mungkin kan ya teriak-teriak di Musholla. Hehe.

Setelah sholat maghrib, adik-adik langsung mengambil nasi bungkus yang telah disediakan. Mereka kembali mengerubungi Saya dan Winda.

“Mau ke mana?” tanya saya dengan wajah bingung.

“Mau pulang kak! Kan mau tarawih.” Jawab mereka dengan lantang.

Dalam hati saya, “Yah ampun adik-adik ini subhanallah sekali. Mau sholat tarawih. Padahal baru selesai sholat maghrib. Saya jadi malu sering menunda berangkat ke masjid kalau belum terdengar adzan. Rasanya dibikin kagum dua kali oleh adik-adik manis ini.”

Dan berhubung adik-adik sudah banyak yang pulang dan roti maryam yang saya bawa masih dalam keadaan beku, alhasil rotinya saya berikan pada Maulin untuk menu berbuka besok.

Oh, ya. Sebelum pulang, saya dan Winda membantu Maulin dan dua adik lebah membagikan nasi bungkus ke tetangga sekitar. Saat saya tanya ke mereka “Ini yang bikin siapa? Mau dibagiin ke siapa?”

Mereka dengan wajah cerianya berkata, “Yang bikin ibu-ibu, Kak. Mau dibagiin ke kaum duafa, kak!”

Dalam hati saya berkata kembali, “Wah dibagiin ke kaum duafa? Pasalnya mereka juga dari kalangan anak-anak yatim dan duafa. Tapi mereka tidak lupa berbagi ke sesama. Subhanallah, dibuat kagum untuk ketiga kalinya.”

Rumah-rumah yang ada di sini menurut saya jauh dari kata layak. Pasalnya ukuran rumahnya sangat kecil, bahkan sepertinya lebih besar kamar tidur dan kamar mandi kosan saya daripada rumah mereka. Jalanannya pun kumuh dan penerangan lampu di sana tak banyak. Ya, memang tingkat ekonomi mereka rata-rata menengah ke bawah. Tapi, semangat adik-adik dalam berbagi yang membuat mereka punya nilai lebih daripada yang lain.

Singkat cerita, saya bercakap dengan Kak Suci via whatsapp. Nasi bungkus yang dibagikan ke tetangga sekitar merupakan salah satu proyek RISALAH (Remaja Islam Rumah Lebah). Tujuan dari proyek-proyek yang diadakan oleh RISALAH ini adalah menebar kebaikan dan merekatkan ukhuwah islamiyah mereka.

RISALAH merupakan kumpulan dari adik-adik lebah yang usianya 12-15 tahun. Mereka setiap harinya menyiapkan 150 nasi bungkus untuk dibagikan. Ka Suci mengontrol mereka dari jauh. Beliau membantu mengatur jadwal ibu-ibu yang masak nasi bungkus sampai 21 hari ke depan. Dan adik-adik inilah yang tugasnya membagikan ke warga sekitar. Dan yang lebih mencengangkan lagi, cita-cita mereka membentuk RISALAH ini adalah ingin menjadi relawan. WOW! Luar biasa, subhanallah. Mulia sekali cita-cita adik-adik ini.

Usianya jauh lebih muda dari saya tapi cita-citanya lebih mulia daripada cita-cita saya di usia itu. Dan nasi bungkus yang telah dibagikan sampai saat ini sudah lebih dari 600 nasi bungkus, lho. Subhanallah! Saya nggak bisa berkata apa-apa lagi. Hati saya sungguh bergetar mendengar semua yang dilakukan oleh adik-adik lebah. Kagum luar biasa dengan adik-adik itu.

Semangat menebarkan kebaikannya itu, lho bisa menggemparkan isi bumi. Mereka memang tak punya uang, tapi mereka punya semangat dan tenaga yang bisa disumbangkan. Uang tentu saja dari donatur yang berbaik hati memberikan donasi terbaiknya untuk membantu mereka menjalankan proyeknya.

Yuk, kakak-kakak relawan PAY semuanya! Jangan mau kalah dengan adik-adik RISALAH. Jumlah mereka tidak lebih banyak dari kita, lho. Bahkan bisa dihitung jari tapi mereka mampu menyiapkan 150 nasi bungkus setiap harinya. Masa jumlah kita yang hampir 300 relawan, tidak bisa mengumpulkan dana untuk #BUKBERakbarPAY2017 yang sebesar 600 juta itu? Kalau dihitung per orangnya, hanya cukup mengumpulkan 2 jutaan, lho. Itu jumlah yang sedikit bukan?

Yuk, kak semangaaat! Jangan mau kalah sama semangat adik-adik RISALAH dalam menebarkan kebaikan, ya. BERSAMA KITA HEBAT! Insyaallah, Allah SWT pasti bantu hamba-NYA yang sedang berusaha.

Oh, ya di bukber nanti adik-adik ini ikutan, lho. Mau kan membuat adik-adik yang sudah buat saya kagum berkali-kali ini tersenyum bahagia? Wah, saya yakin kalau kalian sudah bertemu dengan mereka akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan bukan berhenti pada pandangan pertama saja, cinta ke mereka seperti mecin yang bikin ketagihan mengikuti acara bersama mereka. Mereka menunggu acaranya, lho, kak! SEMANGAAAT!

KEEP SMILE, FIGHT AND SUPPORT #BUKBERakbarPAY2017!

GENERASI HEBAT BERMARTABAT!
*Nisrina Kamilia

BAGIKAN
Berita sebelumyaTetaplah rendah hati!
Berita berikutnyaNikmat berbagi

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!