Beranda cerita relawan Sengatan Lebah di Pulau Tunda

Sengatan Lebah di Pulau Tunda

109
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta – Menjadi bagian dari hexagon kebaikan di rumah lebah adalah satu dari jutaan kebahagiaan yang menjadi goresan senyuman saat aku berusaha untuk mengingat setiap detik peristiwa yang telah terlalui bersama. Bagaimana tidak, menghabiskan waktu bersama adik dan kakak lebah terasa senikmat kamu merasakan renyahnya biskuit dan manisnya krim putih oreo dalam satu gigitan (lah ini kenapa berasa iklan deh).

Sabtu, 16 Desember 2017 tepat pukul 22.56 aku tiba di Rumah Lebah PAY, Muara Bahari III Tanjung Priok. Disambut dengan dengkuran lembut lebah kecil yang tengah menyulam mimpi-mimpi indahnya, aku berusaha selambat mungkin menapaki tiap anak tangga menuju lantai 2 tempat lebah jantan kecil tidur. Kesan damai langsung terasa saat aku menatap satu persatu wajah 6 adik lebah kelas At-Thariq ini terlelap. Wajahnya seakan memberikan pesan kepadaku, bahwa mereka tak sabar menanti hari esok untuk bergembira bersama.

“Eh, Kak Fajar!” celetuk satu adik lebah (Baca: Ryan) dibarengi dengan tatapan dan senyum sumringah yang ternyata sejak tadi pura-pura memejamkan mata saat aku datang, lalu diikuti dengan senyuman (kayaknya sih lebih cocok disebut nyengir) dari Marvel dan Dewa yang ternyata sama-sama sedang berpura-pura tidur.

Sapaan mereka di malam hari ini ternyata bukan pertanda baik, ini malah jadi semi petaka buatku. Bagaimana tidak mereka yang belum tidur terus mengganggu temannya yang sedang tidur. Ryan dan Dewa menjadi otak dari kejahilan malam itu. Seringkali mereka bertanya,

“Kak, udah jam berapa?”

“Jam 3 masih lama ya, Kak?”

“Kak, aku gak usah tidur ya?”

Nampaknya mereka memang sudah tak sabar menanti keberangkatan beetrip kali ini. Bukan perkara mudah untuk memberikan perintah tidur untuk keenam lebah jantan kecil yang tak jarang keaktifannya di malam hari menyengat amarah yang harus tetap kutahan.

“Ayo tidur!”

“Udah jangan gangguin temannya terus.”

“Kalau belum ngantuk gak apa-apa gak tidur, tapi jangan berisik.”

“Yang masih berisik, besok pagi gak boleh ikut!”

Dan beragam perintah lainnya yang sama-sekali tak diindahkan oleh mereka (kakak frustasi, dek T_T). Eh sebentar, ada satu cara lagi yang belum aku lakukan, yaitu mengacuhkan mereka dengan berpura-pura tidur, mari kita coba!

ZZZzzzzzzzzz..!!!!!!! 

1 menit, 

5 menit, 

10 menit, 

30 menit, 

1 jam, 

1,5 jam.

YEAAAAAAAAH misiku berhasil, mereka semua akhirnya tidur, YIPPEEEEEE!!! Walau aku harus berpura-pura tidur dan menunggu mereka lelah saling usil hingga pukul setengah 1 pagi (kayaknya kalo ada rumah lebah award aku layak masuk nominasinya sebagai kakak dengan acting bobo terbaik nih, hahaha). FIUUUUUUH mari kita tidur!

#PETTTTTTTTTT (listrik padam)

Yaelaaah baru mau merem, kenapa malah lampunya yang merem duluan.

Nampaknya kini alam kampung muara bahari ingin memberikan sapaannya padaku. Dini hari aku, Teh Reni, dan Kak Lea disibukkan dengan pengisian token yang tak satu pun di antara kita yang mengerti caranya. Mulai dari mencoba mengisi dengan menghubungi teman, i-banking, bahkan melalui kokopedia semua sudah dicoba dan GAGAL. Akhirnya kami coba susuri gang di Kampung Muara Bahari ini untuk menemukan sang pujaan hati penjual token listrik. Taraaaaa, pucuk dicinta ulam pun tiba.

“Pak, isi token listrik yang 100.000 ke nomor ini, Pak!” sambil menyebutkan nomor ID Pelanggan PLNnya dan menunggu beberapa saat untuk diproses penjualnya.

“Maaf Mas, lagi gangguan”

Yaelah ada-ada aja dah!

“Yaudah Pak, coba terus ya Pak, saya tungguin sampai berhasil.”

Setelah menunggu beberapa menit Alhamdulillah berhasil juga, YIPPEEEEEE.! Mari nyalakan listrik dan mulai beristirahat kawan-kawan.


Kriiiiing kriiiiing kriiiiing

Bising suara alarm menarikku dari alam mimpi untuk kembali ke dunia yang telah menantiku, menjadi salah satu aktor dalam menjalani skenario kehidupan terindah yang sudah dituliskan oleh Allah (haseeek islami banget, kan). Tak sulit membangunkan 6 lebah jantan kecil ini, hanya dengan satu kali usapan lembut di kaki, Marvel langsung terbangun. Lalu selanjutnya biarkan Marvel yang membangunkan kelima temannya, (Hahaha this is a teamwork).

Memperhatikan mereka semua bersiap-siap menjadi pemandangan yang melelahkan bagi mataku ini, bagaimana tidak, 14 adik lebah ini semua sibuk berganti pakaian, keluar masuk kamar mandi, merapikan isi tasnya, mengenakan pakaian terbaiknya untuk beetrip kali ini, hebatnya tak lebih dari 15 menit mereka semua sudah selesai, loh! (Uwooow banget kan, ini yang harus kita tiru gengs, dandan dan packing kilat ala adik lebah).

Selepas shalat subuh kami semua berangkat menggunakan bus polisi menuju pelabuhan di Banten sana, tak banyak yang bisa aku ceritakan selama di dalam bus, karena aku tidur hehehehe.

Sesampainya di pelabuhan (ini disebut pelabuhan apa dermaga ya cocoknya?), atmosfer kebahagiaan semakin meletup-letup dari wajah dan tingkah adik-adik lebah ini, (mungkin kalo gak kita tahan udah pada nyebur main di laut yang penuh lumpur deh kayaknya). Beragam tingkah dan pertanyaan mulai menyerbu kakak-kakak lebah.

“Kak, kita naik kapal yang mana?”

“Kak, kapal yang ini aja ya?!”

“Kak, kapal yang itu aja ya, Kak!”

“Kak, kapal yang itu kok banyak lampunya?”

“Kak, kok, kak”

“Kak, kok?”

“Kak”

“Kaaaaaaaak”

Aaarrrrrrgggghhh satu-satu nanyanya oooy, pusing nih jawabnya! Hahahaha, but terima kasih adik-adik lebah telah membuat pagi kami hangat dengan beragam pertanyaan-pertanyaan remeh hingga berat kalian yang tak jarang menimbulkan gelak tawa di antara kita. Uhuuuy.

Pukul 07.30 WIB perjalanan laut pun dimulai, ditemani deru angin dan gulungan ombak, kapal ini terus melaju membelah lautan menuju Pulau Tunda. Ada satu hal yang membuat hatiku berdesir, mungkin di antara kita saat di perjalanan lebih memilih berdiam memainkan gawai atau tertawa dan bercanda sambil bercengkerama dengan teman-teman. 

Namun ada potret lain yang aku lihat di sini, di kapal ini bersama adik-adik dan kakak lebah mereka asyik menikmati perjalanan sambil memurajaah hafalan bersama. Bahkan saat murajaah hafalan telah mereka selesaikan, mereka masih berlanjut dengan mengajak para kakak lebah untuk melakukan sambung ayat, sesuatu hal yang bagi mereka yang hatinya terpaut pada Al-Quran ini menjadi permainan yang amat mengasyikkan, MasyaAllah.

Di tengah perjalanan, aku rasa Allah ingin memberikan cerita lebih untuk kami semua. Angin timur membuat perairan yang semula tenang seketika berubah menjadi gulungan ombak yang cukup besar. Aku sendiri baru pertama kali merasakan ada di tengah laut dengan terjangan ombak yang begitu besar. Kapal yang terus bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan hebatnya membuat seluruh adik lebah mabok laut, tak luput pula beberapa kakak lebah yang menyerah dengan menuruti hasrat mabuk laut. Selebihnya pura-pura kuat menahan mabok laut dengan wajah yang semakin pucat di setiap detiknya. Hanya doa dan dzikir yang terus terlantun dari bibir dan hati kami semoga kami semua selamat sampai tujuan.

Alhamdulillah setelah melalui masa-masa mencekam di tengah perairan laut dalam, Kapal kami berhasil merapat ke dermaga Pulau Tunda. Lupakan keadaan mencekam selama di kapal dan mari mulai bersenang-senang, YIPPEEEEEE..!

Es Kelapa Susu menjadi welcome drink kami di pulau ini, cukuplah untuk menyegarkan kami semua dari sisa-sisa mabuk asmara laut selama di perjalanan tadi. Tak menunggu waktu lama bagi kami semua untuk menghabiskan minuman menyegarkan ini karena pantai sudah memanggil untuk kami hampiri. 

Bak seorang selebriti saat kami menyusuri jalan menuju bibir pantai, warga Pulau Tunda menoleh ke arah kami bahkan ada yang menegur dan menawarkan makan. Sungguh warga yang ramah! Respon masyarakat ini bukan tanpa alasan, mereka menoleh karena di sepanjang jalan adik-adik ini melantunkan lagu jaran goyang yang sudah dimodifikasi menjadi sebuah lirik islami (jadi lebih terdengar seperti shalawatan). Its very MasyaAllah moment (kakak makin lope-lope loh dek sama kalian).

Sorak-sorai mereka saat melihat luasnya pantai yang sebelumnya mereka anggap ini sebuah kolam, diiringi dengan saling siram dan membasahi diri mereka.

“Ayo Kak, Kakak juga ke sini dong, kita main air!” seru mereka mengajak kami yang langsung kami sambut dengan senyuman hangat, sehangat sinar mentari di siang itu. 

Langit tak menurunkan rintik hujannya, angin membelai lembut kulit kami, mentari bersinar terik namun terhalang oleh awan yang memayungi pantai ini. Tak heran suasana sendu bahagia menyeruak menjadi atmosfer yang mengepung suasana hati kami semua.

Berenang, mencari kerang, membuat istana pasir, menggoreskan tulisan di atas pasir, berayun di tepi pantai, menggali pasir untuk sekadar membenamkan sebagian badan menjadi aktivitas kami bersama adik lebah. Bahkan di saat waktu makan telah tiba, adik-adik lebah ini tak kunjung mengindahkan panggilan kami.

Nampaknya laut jauh lebih menggoda dibandingkan dengan lezatnya nasi hangat yang dipadupadankan dengan gurihnya rolade, sayur buncis, dan sambal terasi. Bahkan kelezatan ikan bakar khas Pulau Tunda pun sulit untuk menarik mereka menjauh dari air.

Bukan kakak lebah namanya jika tak mampu memaksa adik lebah untuk melaksanakan sesuatu demi kebaikan adik lebah itu sendiri. Sekitar pukul satu siang akhirnya mereka semua melakukan makan bersama di bawah rindangnya pohon. Beralaskan selembar spanduk bekas untuk duduk dan kertas nasi sebagai alas makannya, menambah kenikmatan melahap suap demi suap makanan ini. Bahkan adik dan kakak lebah ini tak malu untuk nambah loh. 

Wah wah wah, sepertinya kami semua memang benar-benar lapar yah, atau mungkin karena kelezatan makanan yang dihidangkan membuat selera makan kami bertambah. Hmmm… apa pun itu yang penting perut kakak dan perut mungil kalian kini sudah terisi lagi ya, Dek, dan silahkan melanjutkan permainan air kalian. BYUUuuuuurrrrr

Itulah sepenggal cerita yang tertulis selama kami semua berada di Pulau Tunda bersama dengan lebah-lebah kecil kesayangan kami semua. Ada lebih banyak lagi kisah yang bisa aku ceritakan seperti mengira sebuah bendera di tengah laut sebagai ikan hiu, diserbu oleh belasan adik-adik menggunakan pasir, menyebut kotoran kambing dengan sebutan chocochip, menertawai sesama kakak lebah karena ulah lucunya, memakan 3 ekor ikan dengan waktu yang sangat cepat, menjadi penjual nasi pecel dadakan di pinggir pantai atau sekadar memberikan lengan untuk alas kepala adik lebah agar bisa tertidur lelap. 

Yaaa masih banyak cerita yang bisa aku ceritakan, namun biarkan itu menjadi kisah yang hanya aku yang merasakannya, jika kamu ingin mengetahuinya, jangan sungkan untuk mengingatkanku, aku akan berbagi kisah bahagia ini kepada kalian di kala kita bertemu.

Sudah kodratnya lebah berbahagia dengan bunga, mereka hinggap dari satu bunga ke bunga lain untuk mengambil sari yang akan dibawa pulang dan dibagikan ke keluarganya agar keluarganya bisa bertahan hidup dan bisa hidup lebih baik lagi. Lebah akan senang jika seperti itu. 

Namun kali ini aku melihat para lebah kecil ini mendapat kebahagiaan baru, bermain bersama air, menimbun dirinya dengan pasir dan membiarkan sayapnya basah terkena air laut.

Tak jarang lebah pun menyengat siapa saja di dekatnya bila ia merasa terancam, sama halnya dengan adik-adik lebah ini, mereka akan menyengat sebagai tanda terimakasih dan sayangnya mereka kepada kita. Sengatan mereka akan terasa saat kita berpisah dan sedang tidak berjumpa, seperti ada rasa sesak di dada efek dari sengatan rindu yang mereka masukan ke dalam tubuh ini. 

Setidaknya ada satu lebah yang berhasil menyengat diriku, dialah Marvel, lebah jantan cilik yang menyengatku saat di pulau Tunda. Sampai cerita ini diposting aku masih merasakan efek dari sengatan itu. Sengatan yang mengubah rasa kesal saat jumpa menjadi rasa sesal saat tak bersama. Sengatan yang tidak membuat jera justru membuat ingin kembali berjumpa dengannya.

Dear, adik-adik lebah, sengatlah kami, sengatlah lebih banyak kakak lebah yang kamu temui. Agar mereka semua merasakan tersiksanya didera rindu yang hanya akan hilang saat bertemu. Agar mereka kembali ke sarang kalian dan menjadi bagian dalam Hexagon kebaikan di Rumah Lebah PAY.
*Fajar Firmansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!