Beranda cerita relawan Spesial untukmu, Bun…

Spesial untukmu, Bun…

105
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta – Masih terngiang jelas nasihat bunda saya 2 tahun lalu. Saat saya menjalankan amanah sebagai Kepsek Rumah Lebah PAY.

“Hidup bukan sekadar apa yang kamu miliki, tapi seberapa besar yang bisa kamu lakukan untuk semua orang.”

Alhamdulillah… Rumah Lebah kini sudah berjalan 2 tahun.

Ketika saya lelah dan menyerah, nasihat ibu sayalah yang menjadi penyemangat. Dari sanalah saya ingin memberikan terbaik kepada ibu saya, sebagai bukti bahwa saya bisa menjadi Kepsek yang diharapkan oleh semua orang terutama, ibu. 

Di perjalanan Rumah Lebah yang kedua ini, kami mengambil konsep acara Wisuda Tahfiz dengan tema “Generasi Hebat Generasi Qur’ani”. Sebab saya ingin sekali memperlihatkan perjuangan adik-adik, yang meskipun memiliki keterbatasan lingkungan, mereka mampu berprestasi… terutama dalam menghafal Al Qur’an. Saya ingin mereka dikasihani bukan karena status sosial mereka yaitu anak yatim duafa yang tinggal di pinggiran rel Tanjung Priuk, melainkan sebagai Hafidz dan Hafidzhah.

Dengan target waktu selama 3 bulan, adik-adik rajin menghafal dan setoran pada para kakak lebah atau guru mengaji mereka yaitu Pak Ahmad dan Pak Syarif.

Alhamdulillah tepat pada hari Jum’at, 24 November 2017, ke-50 adik lebah mampu menyelesaikan hafalan sesuai target yang diberikan oleh kakak lebah. Untuk adik kelas “Thoriq bin Ziyadh” usia 5-9 tahun, hafalan Q.S. An Naas – Q.S. Al ‘Alaq, kelas “Khalid bin Walid” usia 10-12 tahun hafalan juz 30, dan Kelas “Al Fatih” Q.S. Yaasiin dan Q.S. Al Mulk. 

Untuk mengapresiasi perjuangan mereka, maka acara Wisuda Tahfiz Pensil 2 kami adakan di Aula Masjid Babusalam Walikota Jakarta Utara hari Ahad, 26 Nopember 2017. Masya Allah kalian luar biasa, Dik!

Sebelum memasuki acara wisuda tahfiz, ada penyematan selempang wisuda dan sertifikat. Adik lebah menjalani proses syarhil Qur’an. Mereka naik ke atas panggung sesuai dengan kelasnya untuk dites hafalannya oleh 3 juri, yaitu Pak Ahmad–mewakili guru mengaji mereka–, Kak Asep–perwakilan kakak lebah/pengajar–, dan satu lagi juri tamu yaitu Kak Rio–lulusan Bahasa Arab.

Terlihat jelas kegugupan adik-adik di atas panggung. Namun Alhamdulillah, mereka bisa melewati ujian tersebut dengan baik. Contohnya Hasby (7 tahun) dari kelas Thoriq lancar membaca Q.S. Al ‘Alaq, dari kelas Khalid bin walid ada Zibran, Dea, dan Nabila. Takbir pun menggema di dalam aula Masjid Babusalam.

Saya terharu dan bangga atas prestasi adik-adik. Tapi ada yang kurang dari acara tersebut, yaitu 1 kursi VIP yang saya khususkan untuk ibunda saya tercinta kosong tak terisi. Sebab beliau dipanggil Yang Maha Kuasa, tepat 2 minggu sebelum acara (Jum’at, 10 November 2017). 

Padahal dari awal konsep acara saya selalu berdiskusi dengan beliau, bercerita banyak tentang perkembangan dan kondisi adik-adik di Rumah Lebah. Beliau tempat saya curhat tentang Wisuda Tahfiz, beliau yang menyuruh saya membakar semangat adik-adik bilamana mereka lelah menghafal. Dengan mengingatkan bahwa salah satu manfaat dari menghafal Al Qur’an adalah memberi mahkota terindah untuk kedua orang tua di akhirat nanti. Juga menginformasikan ke mereka, bahwa dengan membaca Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya (H.R. Muslim). 

Beliau yang memotivasi saya agar tidak lelah membimbing dan membina adik-adik. Yaa dari beliaulah (Almarhumah Ibu Hj. Sarmi binti Sarijah) saya belajar tentang kesabaran dan keikhlasan.  Maka konsep acara wisuda tahfiz saya niatkan untuk persembahan bagi ibunda tercinta. Sebagai hadiah bahwa ridha, do’a serta dukungan dari beliau mampu menjadikan Rumah Lebah memasuki usia kedua. Namun ternyata kesempatan memperlihatkan persembahan itu tidak pernah tercapai.

Bunda… Guru Terhebat dan penyemangat saya. Kini anakmu hanya bisa mengirimimu Al Fatihah di setiap teringat engkau, Bun. Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiro. Semoga engkau bangga melihat anakmu ini yang belum bisa berbakti dan membahagiakanmu, Bun.
*Rahmah Suciyani Sanuri

BAGIKAN
Berita sebelumyaBerawal dari kepo…
Berita berikutnyaBukan Pentas Seni Biasa!

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!