Beranda cerita relawan Terlambat atau tidak sama sekali???

Terlambat atau tidak sama sekali???

105
0
BAGIKAN

Rumah Lebah PAY, Jakarta–Sabtu, 4 Agustus 2018.

طَلَبُوَ الْعِ مِ فَرِيْضَة عَلَى كُلِّ ٍمُسْلِمٍمُسْلِمَةٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Mungkin sebagian orangtua beranggapan buat apa cari ilmu, orang sudah tua kok! Eitss…jangan salah, itu tidak ada di kamus ibu-ibu lebah. Mau tahu kenapa?

Siang hari di Bonpis (singkatan untuk Kebon Pisang), tepatnya di rumah Mama Melis tengah berlangsung kajian pertama Rumah Lebah. Namanya KABIS (Kajian Bonpis). Kajian pekan pertama ini diisi oleh Ustadzah Aya dengan tema “Kewajiban memiliki anak yang sholeh dan sholehah”.

Materi yang diberikan ustadzah adalah materi soal kewajiban para orangtua dalam mendidik anak, bukan hanya soal ilmu tapi juga soal agama. Materi yang disampaikan mencakup bagaimana orangtua memberi bekal agama, seperti mencontohkan jika berada di dekat anaknya, berinteraksi di rumah, dan cara menasehati anak yang baik. Setelah penyampaian materi, dibuka sesi tanya jawab disambi dengan makanan kecil.

Di sini antusias ibu-ibu lebah sangat terilhat dengan banyaknya yang mengajukan pertanyaan. Contohnya:

Pertanyaan pertama soal, “Bagaimana sikap kita, jika anak kita bicara kasar dan bagaimana cara menasehatinya? Kalau dampak lingkungan juga bisa memengaruhi itu bagaimana?”

Pertanyaan kedua, “Bagaimana sikap kita, jika anak sering main HP, sering selfie, dan takut akan dampak negatif media sosial zaman now?”

Pertanyaan ketiga (agak sedikit melenceng dari tema), “Bolehkah kita berhutang, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari”

Dari pertanyaan satu dan dua, jawaban ustadzah kurang lebih sama yaitu balik lagi ke diri orangtua itu sendiri. Sifat anak adalah melihat dan melakukan apa yang dilihat (children see, children do). Seorang anak tidak akan berkata kasar, jika tidak melihat contohnya. Mungkin tanpa sadar anak itu pernah mendengar orangtuanya berbicara kasar. Lalu sang anak merekam itu di dalam pikirannya dan dia mencontoh apa yang sudah direkam oleh otaknya.

Lingkungan juga bisa memengaruhi anak bicara kasar. Tapi sebagai orangtua yang lebih dekat dengan mereka, seharusnya bisa lebih mengontrol anak supaya tidak berbuat yang tidak baik. Cara menasehati pun dengan ucapan yang baik. Menyampaikan ke anak dengan kalimat lembut. Soal anak yang sering bermain HP, mungkin bisa dengan membatasi pemakaian HP. Jika di rumah, orangtua mencontohkan jika di depan anak sebisa mungkin tidak bermain HP atau selfie. Juga fasilitasi anak dengan buku bacaan di rumah, sehingga mereka teralihkan dari gadget.

Ada tiga cara orangtua menyampaikan nasehat ke anaknya:

  1. Dengan ucapan
  2. Dengan ucapan dan tindakan
  3. Dengan doa untuk anak kita

Setelah sesi tanya jawab, sebelum kajian ditutup, ustadzah mengajak semua ibu-ibu lebah untuk bermuhasabah diri sejenak. Suasana begitu damai dan sunyi. Hanya isak tangis yang terlihat di wajah ibu lebah. Bonpis beristighfar dan bersolawat menyebut nama Allah dan Rasulullah.

Teringat jelas di mata ini, di Bonpis yang terkenal dengan tempat yang mungkin banyak maksiat tapi ada tempat majelis ilmu yang Insyaa Allah ada secercah cahaya yang selalu menyebut nama-Nya.

Kajian selesai dan terlihat ibu-ibu lebah sangat senang dan berterimakasih kepada Ustadzah Aya dan kakak relawan. Animo ibu lebah terhadap kajian begitu luar biasa, sampai-sampai mereka menawarkan tempat tinggal mereka untuk dijadikan tempat KABIS pekan ketiga.

Meski terlambat memulai kajian ini, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

*Nur Aliyah Sholihah

LEAVE A REPLY

Please enter your name here
Please enter your comment!